Menjadikan pembaca semakin cerdas dan bermutu.

Jumat, 13 April 2012

PEMBAHARUAN DI MESIR

Pendudukan Napoleon dan Pembaharuan di Mesir

PENDAHULUAN
Sebelum menelisik pembaharuan yang dilakukan oleh Napoleon di Mesir, perlu kiranya penulis memapaparkan sedikit biografi dari Napoleon, mengingat perang Napoleon yang sangat besar bagi perubahan negara Mesir. Agar lebih jelas siapa sebenarnya Napoleon itu, dan bagaimana ia melakukan hal-hal yang sangat brilliant?

Jenderal dan Kaisar Perancis yang tenar, Napoleon I, keluar dari rahim ibunya di Ajaccio, Corsica, pada 15 Agustus 1769 dan meninggal pada 5 Mei 1821. Nama aslinya Napoleon Bonaparte. Ayahnya, Nobile Carlo Bounaparte, seorang pengacara, pernah menjadi perwakilan Corsika saat Louis XVI berkuasa di tahun 1777. Ibunya bernama Maria Letizia Ramolino. Ia memiliki seorang kakak, Joseph; dan 5 adik, yaitu Lucien, Elisa, Louis, Pauline, Caroline, dan Jérôme. Napoleon di baptis sebagai katolik beberapa hari sebelum ulang tahunnya yang kedua, tepatnya tanggal 21 Juli 1771 di Katerdal Ajaccio. Napoleon besar di Corsica yang masuk wilayah kekuasaan Perancis 15 bulan sebelum Napoleon lahir, dan pada saat-saat remajanya Napoleon merupakan seorang nasionalis Corsica yang mengaggap Perancis itu penindas. Tapi, Napoleon dikirim masuk akademi militer di Perancis dan tatkala dia tamat pada 1785 di umur 15 tahun, dia jadi tentara Perancis berpangkat letnan.[1]
Revolusi Perancis meledak pada 1789 dan dalam beberapa tahun pemerintah baru Perancis terlibat perang dengan beberapa negara asing. Dari sinilah Napoleon mulai menunjukkan kebolehannya pada 1793, yaitu dalam pertempuran di Toulon (Perancis merebut kembali kota itu dari tangan Inggris), tempat Napoleon bertugas di kesatuan artileri. Sukses yang diperolehnya di Toulon membuat pangkatnya naik jadi brigjen dan pada 1796 dia diberi tanggungjawab untuk menjadi komando tentara Perancis di Itali. Dan di Itali, Napoleon juga sukses membawa kemenangan besar untuk Perancis.
Pada 1789 Napoleon diberi tanggungjawab untuk memimpin penyerbuan Perancis ke Mesir. Dari ekspedisi yang dilakukan Napoleon di Mesir, membuat nama Napoleon semakin naik daun.
Mesir adalah sebuah negara yang masyarakatnya memiliki nilai religius tinggi. Mereka memandang agama di atas segala-galanya, sebagai bagian integral dari budaya, adat istiadat, dan masyarakat itu sendiri. Kelompok-kelompok Islam selalu bersikukuh untuk tidak terpengaruh dengan Barat. Karena menurut mereka Islam sebenarnya lebih unggul dibanding orang-orang Barat. Mereka mengidealisasikan periode awal Islam dan menurut ajaran mereka hanya kembali ke zaman keemasan inilah Mesir modern bisa sembuh dari segala penyakit. Dengan berdalih  bahwa pengaruh Barat yang dimulai dari invasi Napoleon sebagai akar segala kebobrokan, mereka mendukung  tulisan-tulisan dan deklarasi-deklarasi mereka dengan tafsir Al-Qur’an dari Ibnu Hanbal dan Ibnu Taimiyah yang keduanya menyeru untuk membaca Al-Qur’an  secara tekstual, sembari menolak semua penafsiran, filsafat, dan teks-teks yang menyertai.
Seperti keterangan sebelumnya, masyarakat Mesir sangat anti dengan yang namanya orang-orang Barat. Karena menurut mereka orang-orang Barat hanya akan merusak akidah dan ajaran-ajaran Islam. Dengan ditambah pandangan mereka bahwa Mesir sudah cukup kuat dan modern dibanding negara-negara sekitarnya. Mereka belum begitu sadar bahwa orang-orang Barat lebih maju dan modern dari pada masyarakat Mesir.
Kedatangan Napoleon di Mesir pada 1798 merupakan momentum penting dari perkembangan Islam. Kedatangan “penakluk dari Prancis” ini tidak hanya membuka mata kaum muslim akan apa yang dicapai oleh peradaban Barat di bidang sains dan teknologi, tetapi juga menandai awal kolonialisme Barat atas wilayah-wilayah Islam. Di antaranya akibat kontak itu di lingkuangan elit muslim para penguasa dan kalangan cendikiawan gerakan pembaharuan Islam kembali memperoleh gairah. Kaum muslim semakin intensif dan bersemangat mengkaji kembali doktrin-doktrin dasar Islam khususnya dihadapkan pada kemajuan Barat. Kritik-kritik terhadap kondisi umum masyarakat Islam bermunculan, seruan berjihad semakin nyaring terdengar, pandangan lama yang menganggap pintu ijtihad telah tertutup tidak hanya digugat, tetapi bahkan dianggap sebagai cermin dari keterbelakangan intelektual. Tidak heran jika taqlid mendapat kritik pedas dari kalangan pembaharu.[2]
Meskipun kedatangan Napoleon menjadi pemicu timbulnya respon dikalangan terpelajar muslim, namun kontak dengan Barat bukanlah satu-satunya faktor yang menyebabkan munculnya gerakan pembaharuan dalam Islam. Di samping dalam batang tubuh doktrin-doktrin Islam pembaharuan merupakan sesuatu yang intern, kondisi objektif umat Islam sendiri yang secara umum ditandai oleh semakin memudarnya semangat keilmuan, kebekuan di bidang intelektual, dan berkembang pesatnya tradisi-tradisi yang mendekati kepada syirik, merupakan faktor yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Faktor-faktor itu sekaligus juga merupakan tantangan kaum muslim, bukan hanya dalam tataran intelektual tetapi juga pada tataran empiris, seperti kekhalifahan yang berabad-abad bertahan dalam Islam mulai digugat.
Sejarah membuktikan bahwa kelengahan umat Islam dalam memahami pergeseran “agama yang benar” kepada “ortodoksi ideologi”, akibatnya ketika agama telah berubah menjadi dogma-dogma fiqih teologi Asy’ari, umat Islam kehilangan kesempatan menatap sisi-sisi negatif dikotomi itu. Ditambah lagi kehadiran berbagai mazhab yang berseteru, partai yang bersaing, kelompok-kelompok muslim yang berselisih dan organisasi-organisasi sosial keagamaan yang tidak akur adalah manifestasi dominasi fiqih yang menggerus akar kekuatan umat.
Ketika umat Islam – pada masa itu – harus berhadapan dengan modernisasi negara-negara industri, daerah ‘’yang tak terpikirkan” itu semakin melebar. Hegemoni dunia Barat yang terus berlanjut tidak memperoleh respon antisipasif dari umat Islam. Karenanya, upaya kongkrit menghentikan kesenjangan itu merupakan solusi terbaik bagi mereka jika Islam sebagai agama yang membumi. Pemahaman, penghayatan dan pengalaman yang utuh terhadap semua dimensi ajaran Islam adalah resep terbaik bagi kebangkitan agama mereka .
Dalam konteks sejarah, unsur positif posmodernisme barangkali dapat ditemukan pada tradisi dan kehidupan Nabi yang mengedepankan masa dalam ajaran zaman. Negara Madinah, seperti terungkap di muka, adalah cermin teladan bagi kehidupan manusia lain, termasuk umat Islam pasca-nabi. Masa itu ditandai dengan kehidupan sosial, politik dan ekonomi yang relatif makmur dan adil. Bahkan, kehidupan umat beragama memperoleh porsi memadai dalam situasi kondusif bagi pengembangan masing-masing agama.
Hal ini kemudian menyebabkan banyak pemikir Islam dan hingga kini berusaha keras untuk membuktikan bahwa Islam pun sejalan dengan perkembangan zaman itu. Mereka ingin menunjukkan bahwa Islam tidak ketinggalan zaman. Suara-suara yang menggaungkan isu tajdid (pembaharuan) terhadap Islam menggema di berbagai wilayah kaum muslimin. Sayangnya,  niat baik dan upaya keras ini seringkali justru berdampak negatif. Tanpa disadari, upaya tajdid yang mereka lakukan justru adalah “membaratkan Islam” dan bukan “mengislamkan nilai-nilai barat”.  Akibatnya, banyak nilai-nilai Islam yang bersifat prinsipil dinafikan, dan dianggap “mengganggu” kemajuan peradaban modern yang harus dibuang.  Ide-ide seperti sekulerisme, liberalisme dan pluralisme yang marak belakangan ini menurut hemat penulis tidak lebih merupakan bukti  dampak turunan atas hal itu.
Dari sini penulis akan membahas Pendudukan Napoleon dan Pembaharuan di Mesir, yang dimulai dari penyerangan Napoleon di kota Iskandariyah sampai pada akhirnya bisa menguasai Mesir. Pendudukan Napoleon di Mesir memberikan dampak yang sangat besar bagi perkembangan dan kemajuan di Mesir. Oleh karena itu, penulis akan mencoba menjelaskan mulai dari mengapa Napoleon ingin menguasai Mesir, apa saja pembaharuan yang dilakukan Napoleon dan apa dampak yang dilakukan Napoleon bagi masyarakat Mesir?


  
PEMBAHASAN
A.    Tujuan Invasi Napoleon di Mesir
Selesainya Revolusi Perancis 1789 menjadikan negara tersebut menjadi negara besar yang mendapatkan saingan dan tantangan dari Inggris. Inggris pada waktu itu menjalin hubungan yang erat dengan India yang menjadikan Inggris semakin maju dan meningkat kepentingan-kepentingannya. Maka dari itu, Napoleon ingin memutuskan hubungan antara  Inggris di Barat dan India di Timur dengan cara meletakkan kekuasaannya di negara Mesir.
Di samping itu Perancis juga perlu pasaran baru untuk meningkatkan perindustriannya, karena Mesir merupakan tempat yang strategis untuk meningkatkan perekonomian dan untuk menguasai kerajaan besar seperti yang dicita-citakannya, tepatnya adalah Kairo. Napoleon sendiri sebenarnya tidak serta merta hanya ingin memutuskan hubungan antara Inggris dan India, tetapi Napoleon nampaknya ingin menjadikan dirinya sebagai penguasa Eropa yang mengikuti idolanya yaitu Alexander Macedonia yang pernah menguasai Eropa dan Asia sampai ke India. Oleh karena itu Napoleon sangat menggebu-gebu untuk segera menguasai Mesir dan meningkatkan industri dan pasaran ekonominya.
Waktu Napoleon melakukan penyerangan Mesir berada di bawah kekuasaan kaum Mamluk, walaupun sudah ditaklukkan oleh Sultan Salim pada tahun 1517, tetapi hakikatnya daerah ini masih bagian dari Kerajaan Usmani. tetapi setelah bertambah lemahnya kekuasaan sultan-sultan, Mesir mulai melepaskan diri dari kekuasaan Istambul dan menjadi daerah otonom.
Setelah jatuhnya prestise sultan-sultan Usmani, mereka tidak mau lagi tunduk kepada Istambul bahkan menolak pengiriman hasil pajak yang mereka pungut dengan cara kekerasan dari rakyat Mesir ke Istambul. Syeikh al-Balad adalah sebutan kepala mereka yang sebenarnya menjadi raja di Mesir pada waktu itu. Karena mereka bertabiat kasar dan biasanya hanya tahu bahasa Turki dan tak pandai bahasa Arab, maka hubungan mereka dengan rakyat Mesir tidak begitu baik. Maka dari itu, Napoleon langsung melakukan serangan ke Mesir karena tahu bahwa antara Mesir dengan kerajaan Usmani sedang mengalamai komunikasi yang kurang begitu baik bahkan bisa dibilang buruk. Kondisi ini dimanfaatkan oleh Napolen dan pasukannya agar segera menduduki Mesir.
Pertahanan Kerajaan Usmani dan kaum Mamluk yang lemah pada waktu itu, dapat digambarkan dari perjalanan perang di Mesir. Napoleon mendarat di Alexandria pada tanggal 2 Juni 1798 dan keesokan harinya kota Pelabuhan yang  penting ini jatuh. Sembilan hari kemudian, Rasyid, suatu kota yang terletak di sebalah Timur Alexandria, jatuh pula. Pada tanggal 21 Juli tentara Napoleon sampai di daerah Piramid di dekat Kairo. Pertempuran terjadi di tempat itu dan Kaum Mamluk yang tak mampu membendung kekuatan Napoleon, lari ke Kairo. Tetapi di sini mereka tidak mendapatkan sokongan dari rakyat Mesir, akhirnya mereka lari lagi ke Mesir sebelah selatan. Dalam jangka waktu tidak sampai tiga minggu, tepatnya tanggal 22 Juli, Napoleon telah dapat menguasai Mesir. Begitu mudahnya pasukan Napoleon menguasai Mesir yang melukiskan betapa kuatnya pasukan yang dibawa Napoleon dan juga ditambah kekuatan Mesir yang tidak begitu maju jika dibandingkan Perancis.
Sebenarnya, sebelum Napoleon melakukan invasi ke Mesir, Perancis sendiri sedang mengalami konflik dengan negara-negara sekitarnya. Bahkan pada tahun 1793 Belanda mengumumkan pernyataan perangnya pada Perancis. Perang itu muncul karena Revolusi Perancis yang diawali pada 1789 berhasil meruntuhkan monarki serta lembaga-lembaga kefeodalan lainnya, sehingga di satu pihak menimbulkan kecemasan negara-negara Eropa lainnya yang takut terkena imbas revolusi. Sementara di lain pihak Perancis harus mempertahankan hasil revolusi dari ancaman pihak luar yang tak menyukainya. Akibatnya, timbul semacam “perang ideologis” secara total. Perancis pun dipaksa bersikap ofensif, terutama setelah Austria dan Prusia mencoba menginvasi Perancis pada 1792. Serangan itu berhasil dipukul dan Perancis berbalik menjadi agresif, menaklukkan Belanda dan mendirikan pemerintahan boneka dalam bentuk Bataafsche Republiek (Republik Bataaf) pada 1795-1806. Selama menjadi protektorat Perancis itu Belanda harus tunduk kepada Paris, termasuk wilayah jajahannya di Indonesia. Sehingga tidaklah heran pada tahun-tahun tersebut Perancis tiba-tiba ikut berkuasa di Indonesia.[3]
Napoleon bersikeras memperluas dan menguasai daerah-daerah di sekitar Mesir, tetapi ia tidak berhasil. Pada 1798 Napoleon memimpin penyerbuan Perancis ke Mesir. Langkah ini ternyata merupakan malapetaka. Di darat, umumnya pasukan Napoleon berhasil, tapi Angkatan Laut Inggris di bawah pimpinan Lord Nelson mengobrak-abrik armada Perancis. Sementara itu, perkembangan politik di Perancis menghendaki kehadirannya. Pada akhirnya ia kembali ke Perancis dan menyerahkan ekspedisi tersebut kepada Jendral Kleber. Dalam pertempuran yang terjadi di tahun 1801 dengan armada Inggris, kekuatan Perancis di Mesir mengalami kekalahan. Ekspedisi yang dibawa Napoleon itu meninggalkan mesir pada tanggal 31 Agustus1801.
Menurut sumber lain mengatakan bahwa Pada   tanggal   2 Juni  1798 M, ekspedisi Napoleon mendarat di Alexandria (Mesir) dan berhasil mengalahkan Mamluk sehingga berhasil menguasai Kairo. Setelah ditinggal Napoleon digantikan oleh Jenderal Kleber dan kalah ketika bertempur melawan Inggris. Dan pada saat bersamaan datanglah pasukan Sultan Salim III ( Turki Usmani) pada tahun 1789-1807 M dalam rangka mengusir Prancis dari Mesir. Salah satu tentara Turki Usmani adalah Muhammad Ali yang kemudian menjadi gubernur Mesir di bawah Turki Usmani.[4]
Menurut Philip K. Hitti, Napoleon Bonaparte mendarat di Iskandariyah pada Juli 1798 dengan tujuan menghukum  kaum Mamluk yang dituduh dalam pidato kedatangannya dalam bahasa Arab sebagai muslim yang tidak baik, tidak seperti dirinya dan orang Perancis untuk mengembalikan kekuasaan Porte. Tujuan utamanya melancarkan serangan hebat kepada kerajaan Inggris dengan cara memutus jalur komunikasinya dengan wilayah Timur, sehinga ia memiliki daya tawar untuk menguasai dunia. Akan tetapi penghancuran armada Perancis di Teluk Aboukir (1 Agustus 1798), tertahannya ekspedisi di Akka (1799) serta kekalahan pertempuran Iskandariyah (21 Maret 1801) menggagalkan ambisi Napoleon di Timur.[5]
Sedikit flashback bahwa Mesir   menjadi   wilayah Islam pada zaman khalifah Umar bin Khattab pada 640 M,  Mesir ditaklukkan oleh pasukan Amr Ibn al-Ash yang kemudian ia dijadikan gubernur  di sana. Kemudian diganti oleh Abdullah Ibn Abi Syarh pada masa Usman dan berbuntut konflik yang menjadi salah satu sebab terbunuhnya Usman ra.  Mesir menjadi salah satu pusat peradaban Islam dan pernah dikuasai dinasti-dinasti kecil pada zaman Bani Abbas, seperti Fatimiah (sampai tahun 567 H) yang mendirikan Al-Azhar, dinasti Ayubiyah (567-648 H) yang terkenal dengan perang salib dan perjanjian ramalah mengenai Palestina, dinasti Mamluk (648-922 H) sampai ditaklukan oleh Napoleon dan Turki Usmani.[6]

B.       Pembaharuan yang Dilakukan Napoleon
Napoleon datang ke Mesir bukan hanya membawa tentara, tetapi terdapat 500 kaum sipil dan 500 wanita. Diantara kaum sipil itu terdapat 167 ahli dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan. Ekspedisi itu datang bukan hanya untuk kepentingan militer, tetapi juga untuk kepentingan ilmiah. Untuk hal ilmiah tersebut dibentuk suatu lembaga ilmiah bernama Institute d’Egypte, yang mempunyai empat bagian: Bagian ilmu pasti, Bagian Ilmu Alam, Bagian Ekonomi-Politik, dan Bagian Sastra-Seni.
Institute d’Egypte boleh dikunjungi orang Mesir, terutama para Ulamanya, yang diharapkan oleh ilmuwan-ilmuwan Perancis yang bekerja dilembaga-lembaga itu, yang akan menambah pengetahuan mereka tentang Mesir, adat-istiadatnya, bahasa dan agamanya. Di sinilah orang-orang Mesir dan umat Islam untuk pertama kalinya mempunyai kontak langsung dengan peradaban Eropa yang baru lagi asing bagi mereka itu.
Abd al-Rahman al-Jabarti, seorang Ulama dari Al-Azhar dan penulis sejarah, pernah mengunjungi lembaga itu di tahun 1799. Yang menarik perhatiannya ialah perpustakaan besar yang didalamnya bukan hanya berisi buku dari bahasa Eropa saja, tetapi juga banyak buku agama dalam bahasa Arab, Persia dan Turki. Sebagian dari tentara yang dibawa Napoleon memang terdapat kaum orientalis yang akan menerjemahkan perintah dan maklumat-maklumat Napoleon ke dalam bahasa Arab.
Alat-alat ilmiah seperti teleskop, mikroskop, alat-alat untuk percobaan kimiawi, dan sebagainya, eksperimen-eksperimen yang dilakukan dilembaga itu, kesungguhan orang Perancis bekerja dan kegemaran mereka pada ilmu-ilmu pengetahuan, semua itu ganjil dan menakjubkan bagi al-Jabarti. Kesimpulan tentang kunjungan itu ia tulis dengan kata-kata berikut:
“Saya lihat disana benda-benda dan opercobaan-percobaan ganjil yang menghasilkan hal-hal yang besar dapat ditangkap oleh akal seperti yang ada pada diri kita.”[7]
Demikianlah kesan seorang cendekiawan Islam waktu itu terhadap kebudayaan Barat. Ini menggambarkan betapa mundurnya umat Islam di ketika itu. Keadaan menjadi terbalik180 derajat. Kalau di periode Klasik orang Barat yang kagum melihat kebudayaan dan Peradaban Islam, di periode Modern Kaum Islam yang heran melihat kebudayaan dan kemajuan Barat.
Di masa tahun-tahun kekuasaanya, Napoleon melakukan perombakan besar-besaran dalam sistem administrasi pemerintahan yang ada di Perancis serta daerah-daerah yang telah dikuasainya. Misalnya, dia merombak struktur keuangan dan kehakiman, dia mendirikan Bank Perancis dan Universitas Perancis, serta menyentralisir administrasi.
Meskipun perubahan ini mempunyai makna penting, tetapi perubahan ini tidak serta merta diterima oleh semua kalangan terlebih untuk negara yang awalnya berbentuk kerajaan. Jadi perombakan yang dilakukan Napoleon butuh jangka panjang untuk bisa diterima oleh semua golongan. Tetapi ada salah satu perombakan yang dilakukan oleh Napoleon yang mempunyai daya pengaruh melampaui batas negeri Perancis sendiri. Yaitu, penyusunan apa yang termasyhur dengan sebutan Code Napoleon. Dalam banyak hal, code ini mecerminkan ide-ide Revolusi Perancis. Misalnya, di bawah code ini tidak ada hak-hak istimewa berdasarkan kelahiran dan asal-usul, semua orang sama derajat di mata hukum. Secara umum, code itu moderat, terorganisasi rapid an ditulis dengan ringkas, jelas, dapat diterima, serta mudah dipahami. Akibatnya, code ini tidak hanya berlaku di Perancis (hukum perdata Perancis yang berlaku sekarang hampir mirip dengan code Napoleon itu) tetapi juga diterima pula di negeri-negeri lain dengan perubahan-perubahan yang disesuaikan dengan keperluan setempat.[8]
Selain kemajuan itu, Napoleon juga membawa ide-ide baru yang dihasilkan revolusi Perancis, seperti:
1.      Sistem pemerintahan republik yang di dalamnya kepala negara dipilih untuk waktu tertentu, tunduk kepada udang-undang dasar dan bisa dijauthkan oleh parlemen. Sistem ini berlainan sekali dengan sistem pemerintahan raja-raja Islam, yang tetap menjadi raja selama ia masih hidup dan kemudian digantikan oleh anaknya, tidak tunduk kepada konstitusi atau parlemen, karena konstitusi dan parlemen tidak ada dalam system kerajaan itu.
2.      Ide persamaan (egalite) dalam arti samanya kedudukan dan turut sertanya rakyat dalam soal pemerintahan.
3.      Ide kebangsaan yang terkandung dalam maklumat Napoleon bahwa orang Perancis merupakan suatu bangsa dan bahwa kaum Mamluk adalah orang asing dan datang ke Mesir dari Kaukasus, jadi sungguhpun orang Islam tetapi berlainan bangsa dengan orang Mesir.[9]
Inilah beberapa dari ide-ide yang dibawa ekspedisi Napoleon ke Mesir, ide-ide yang pada waktu itu belum mempunyai pengaaruh yang nyata bagi umat Islam di Mesir. Tetapi dalam perkembangan kontak dengan Barat di abad ke-19 ide-ide itu makin jelas dan kemudian diterima dan dipraktekkan.
Jadi, bisa disimpulkan bahwa pembaharuan yang dibawa Napoleon meliputi pembaharuan dibidang teknologi, yang mana masyarakat Mesir pada waktu itu masih belum mengenal teknologi modern seperti orang-orang Eropa. Serta pembaharuan di bidang Pemerintahan yang mana Napoleon merombak habis-habisan sistem yang sudah berlaku di Mesir sebelumnya, dari mulai sistem kerajaan yang dulunya bersifat kerajaan yang absolut dirombak menjadi sistem republik yang moderat.

C.       Dampak Invasi Napoleon di Mesir
   Dampak yang dirasakan oleh masyarakat Mesir sangatlah besar. Yang paling besar adalah dampak psikologis yang dirasakan masyarakat. Karena mereka yang sebelumnya tidak pernah tahu sama sekali tentang kecanggihan teknologi begitu Napoleon dan tentaranya masuk menguasai Mesir, masyarakat dipertontonkan dengan segala kemajuan yang ada di Barat. Itu berdampak pada psikologis seseorang yang mana mereka sangat kagum, bagaimana bisa orang-orang Barat memiliki peralatan yang serba canggih sedangkan mereka (Mesir) tidak memilikinya. Mereka mulai diperkenalkan dengan perkembangan ilmu sains dan teknologi modern yang dibawa armada Napoleon seperti, teleskop, mikroskop, alat-alat percobaan kimiawi dan sebagainya.
Bagaimanapun, ekspedisi Napoleon telah membuka mata umat Islam Mesir akan kelemahan dan kemunduran mereka.[10] Selain itu, penguasaan Napoleon terhadap mesir juga membawa keberkahan tersendiri, karena dengan Perancis menguasai Mesir memberikan dampak yang bisa menimbulkan kesadaran komunal masyarakat Mesir untuk melawan hegemoni penjajah.

PENUTUP
Ekspedisi Napoleon datang ke Mesir bukan hanya dalam kepentingan militer tetapi juga untuk keperluan ilmiah. Tujuan napoleon sebenarnya adalah melancarkan serangan hebat pada kerajaan Inggris dengan cara memutus jalur komunikasinya dengan wilayah India di Timur, sehingga ia memiliki daya tawar untuk menguasai dunia. Dia ingin mengikuti jejak Alexander Macedonia yang dapat menguasai Eropa dan Asia sampai ke India. Namun, ambisinya gagal karena adanya intervasi Inggris Raya dan Utsmaniyyah. Setelah adanya aliansi militer resmi pertama kali antara Utsmaniyyah dan Negara-negara non muslim.
Selain itu, Napoleon membawa ide-ide baru akibat dari revolusi Perancis ke Mesir, antara lain: sistem pemerintahan republik, ide persamaan, dan ide kebangsaan. Itulah beberapa dari ide-ide yang dibawa ekspedisi Napoleon ke Mesir, yang pada waktu itu belum mempunyai pengaruh yang nyata bagi umat Islam di Mesir. Tetapi dalam perkembangan kontak dengan Barat di abad Kesembilan belas, ide-ide itu makin jelas dan kemudian diterima sekaligus dipraktekkan.










DAFTAR PUSTAKA

Hitti, Philip K. History of The Arabic. (Terj. R. Cecep Lukman). Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta
Lanza, Conrad H. 2010. Napoleon dan Strategi Perang Modern. Terj. Gatot Triwira. Depok: Komunitas Bambu
Mubarok, Jaih. 2008. Sejarah Perdaban Islam. Bandung: Pustaka Islamika
Nasution, Harun. 2011. Pembaharuan Dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan. Jakarta: Bulan Bintang
Sihbudi, M. Riza dkk. 1993. Konflik dan Diplomasi di Timur Tengah. Bandung: PT. Eresco












 


[1] Conrad H. Lanza, Napoleon dan Strategi Perang Modern, (Terj. Gatot Triwira), (Depok: Komunitas Bambu, 2010), Cet. I, h. xxi
[3] Ibid., h. xxii
[4] Jaih Mubarok, Sejarah Perdaban Islam, (Bandung: Pustaka Islamika,2008), cet. I, h. 227
[5] Philip K. Hitti, History of The Arabic, (Terj. R. Cecep Lukman), (Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta), h. 924
[6] M. Riza Sihbudi dkk, Konflik dan Diplomasi di Timur Tengah, (Bandung: PT. Eresco, 1993), h. 82
[7] M.Q. al-Baqli, ed., al-Mukhtar Al-Mukhtar Tarikh al-Jabarti (Kairo: Matabi’ al-Sya’b, 1958), h. 287
[8] Conrad H. Lanza, Napoleon dan Strategi Perang Modern, h. xxiii
[9] Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan, (Jakarta: PT Bulan Bintang, 2011, cet. XIV), h. 25
[10] Ibid., h. 26


0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Ads 468x60px

© Blogger Kejora, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena