Menjadikan pembaca semakin cerdas dan bermutu.

Sabtu, 16 Juni 2012

Ajaran Buddha Tentang Manusia

Oleh Daqoiqul Misbah*
*Mahasiswa Aqidah Filsafat semester 6

Dalam buku Agama-agama di dunia dijelaskan bahwa Manusia, menurut ajaran Buddha, adalah kumpulan dari kelompok energi fisik dan mental yang selalu dalam keadaan bergerak, yang disebut pancakhandha atau lima kelompok kegemaran yaitu rupakhandha, vedanakhandha, sannakhandha, shankharakhandha dan vinnanakhandha.

Rupakhandha, atau kegemaran akan wujud atau bentuk, adalah semua yang terdapat dalam makhluk yang masih berbentuk (unsur dasar) yang dapat diserap dan dibayangkan oleh indra (yang terlihat, terdengar, terasa, tercium ataupun tersentuh). Vedanakhandha, atau kegemaran akan perasaan, adalah semua perasaan yang timbul karena adanya hubungan lima indra manusia dengan dunia luar, baik perasaan senang, susah ataupun netral. Sannakhandha, adalah kegemaran akan penyerapan yang menyangkut intensitas indra dalam menanggapi rangsangan dari luar yang menyangkut enam macam penyerapan indrawi seperti bentuk suara, bau-bauan, cita rasa, sentuhan jasmaniah dan pikiran. Shankharakhandha, adalah kegemaran bentuk-bentuk pikiran. Menurut ajaran Buddha, bentuk-bentuk pikiran ini terdiri dari 50 macam kegiatan mental seperti perhatian, keinginan, keyakinan, kemauan keras, keserakahan, dan sebagainya. Vinnanakhandha, kegemaran akan kesadaran, adalah kegemaran terhadap reaksi atau jawaban yang berdasarkan pada salah satu dari keenam indra dengan objek dari indra yang bersangkutan.
Manusia dianggap merupakan kumpulan dari lima kandha tanpa adanya roh atau atma di dalamnya. Agama Buddha menyangkal adanya roh atau atma yang kekal dalam diri manusia. Ajaran ini disebut dengan ajaran anatman atau anatta.
Manusia selalu berada dalam dukkha karena hidup menurut ajaran Buddha selalu dalam keadaan dukkha, sebagaiman diajarkan dalam Catur Arya Satyani tentang hakikat dari dukkha. Untuk menghilangkan dukkha manusia harus mengetahui dan memahami sumber dukkha yang disebut dukkhasamudya, yang ada dalam diri manusia itu sendiri, yaitu berupa kehausan (tanha) yang mengakibatkan kelangsungan dan kelahiran kembali serta ketertarikan pada hawa nafsu. Tanha inilah yang bisa mengakibatkan manusia ke dalam lobha (ketamakan), moha (kegelapan) dan dosa (kebencian). Terhentinya dukkha manusia bisa membawa manusia sampai pada nirwana. Istilah “nirwana” adalah untuk menggambarkan akhir proses yang terjadi dalam diri manusia, yang berbeda dengan konsep sorga maupun neraka seperti dalam agama-agama lainnya. Ketika kebodohan teratasi, maka tercapailah kebebasan yang sebenar-benarnya, suatu nirwana yang mutlak. Nirwana inilah tujuan akhir dari semua pemeluk agama Buddha, baik sewaktu masih hidup maupun sesudah mati.

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Ads 468x60px

© Blogger Kejora, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena